Info · Kesehatan

Kejang Demam pada Anak, berbahaya kah?

Sebelumnya sudah saya paparkan mengenai Tata Laksana Diare dan Mumps (Gondongan), kali ini saya ingin sedikit mengulas tentang Kejang Demam.
Saya, berpengalaman sendiri menangani kejang demam dua anak saya (iya dua-duanya), tapi saya berhasil melaluinya dan anak saya bisa mendapatkan tata laksana yang semestinya tanpa obat yang seharusnya tidak perlu.
Kejang Demam memang sudah semestinya saya perhatikan sejak awal, karena suami saya pada masa kecilnya pernah mengalami Kejang Demam, ini akan menjadi probabilitas tinggi yang menurun pada buah hati kami.
Anak saya yang pertama, Keya, mengalami Kejang Demam di usia 15 bulan. Waktu itu malam hari, saya cek suhu nya 38,5 derajat lalu saya kasih paracetamol dan kami bersiap untuk tidur (kebetulan suami saya bertugas di Jakarta dan saya di Bandung) jadi saya hanya berdua Keya di kamar saat itu. Baru saja saya membalik badan, seluruh kasur rasanya bergetar  dan ketika saya balik Keya sedang mengalami Kejang Demam. Panik pastinya, tapi Alhamdulillah pada saat itu saya masih bisa berpikir dengan logika dan tata laksana yang saya dapatkan dari PESAT. Miringkan badan anak, jangan masukkan benda apapun ke mulutnya, tunggu sampai kejangnya selesai. Jika sudah punya persediaan Diazepam, masukkan Diazepam ke dubur PADA SAAT KEJANG berlangsung.  Setelah kejang selesai, saya memberi tahu orang tua lalu diminta untuk langsung dibawa ke UGD RS terdekat, pada saat di perjalanan saya hanya memastikan Keya sadar dan tidak ada kaku kuduk, Alhamdulillah dia sadar masih mau minum ASI dan tidak ada kaku kuduk. Saya berkonsultasi via milis sehat (Alhamdulillah langsung reply by dr.Purnamawati, SpA langsung sehingga saya merasa tenang). Sampai rumah sakit, saya berkata pada dokter jaga untuk tidak memasukkan suntikan apapun pada anak saya dengan resiko saya sendiri (hasil konsultasi), ya walaupun pada akhirnya karena sedikit perdebatan setelah Keya muntah dia “terpaksa” diinfus, namun karena tidak ada kejang berulang dan kegawat daruratan lainnya Keya diperbolehkan pulang setelah bertemu dokter esok hari.
Anak saya yang kedua, Aya, mengalami kejang demam di usianya 9 bulan. Pada awalnya dia kena flu kemudian demam, masih dengan positif thinking dan tata laksana yang sesuai, ketika dia demam  mulai 38,5 derajat saya sudah siapkan paracetamol sampai pagi hari saya kira demamnya biasa tapi sebelum kejang itu dia terkesan suka kaget. Sampai akhirnya jam 9 pagi dia kejang demam, kala itu hari sabtu dan termasuk hari libur natal dan tahun baru pastilah juga jarang ada dokter standbye. Aya kejang demam pas ketika saya gendong, jadi saya langsung miringkan badannya dan tidak memasukkan apa-apa ke dalam mulutnya, kalo gag tega lihatnya nelangsa muka dan bibirnya seketika pucat dan biru tetapi pikiran dan hati harus tetap tenang (lagi-lagi saya belum punya diazepam cadangan dikulkas). Setelah kejangnya berlangsung kurang lebih 3 menit, otomatis Aya lemas tapi lama kelamaan ketika saya pegang dia masih sadar, dipantau gag ada kejang berulang dan kaku kuduk. Saya dan suami memastikan konsul ke dokter anaknya dr.Margaretha Komalasari, SpA di KMC (Kemang Medical Care) via call, setelah saya coba berdiskusi selama tidak ada kaku kuduk dan tidak berulang (jika berulang ada kemungkinan meningitis/encephalistis dan harus dengan segera dilarikan ke UGD) diobservasi saja dirumah dan bisa ketemu beliau Senin di Jakarta untuk konsultasi. Dan akhirnya kejang demam ini saya lewati lagi dan akhirnya saya baru konsultasi ke dokter hari Senin.

Hasil konsultasi dengan dr. Etha dan juga sesuai tatalaksana yang memang sudah saya pelajari, sesuai.
1.Kejang demam tidak berbahaya dan tidak berpengaruh pada kecerdasan anak
2.Kejang demam berpotensi lebih besar terjadi apabila ada riwayat dari ayah atau ibu yang mengalami kejang demam ketika kecil
3.Probabilitas kejang demam berulang semakin besar apabila kejang demam terjadi pada suhu rendah (38,5 derajat ke bawah), kejang pertama terjadi pada umur < 1 tahun serta kejang demam yang pertama adalah complex febrile seizure (kejang fokal,berlangsung selama >15 menit dan berulang)
4. Untuk case supaya lebih aman, ketika anak pertama kali akan demam suhu sudah 37,5 segera beri paracetamol dan berikan berulang sesuai dosis sampai 24 jam pertama. Setelah lewat 24 jam, berikan paracetamol sesuai aturan (ketika demam sudah mencapai 38,5 derajat).
5. Kejang demam akan terjadi pada 24 jam pertama demam pada anak, setelah 24 jam suhu tubuh anak sudah menyesuaikan
6. Kejang demam terjadi umumnya pada anak sampai usia 6 tahun.

Hal yang perlu dipersiapkan dirumah :
1. Diazepam 10mg yang dimasukkan di dubur (digunakan jika dan hanya jika anak sedang kejang demam)
2. Dumin (paracetamol rektal yang digunakan dimasukkan ke dalam dubur), apabila panas anak terlalu tinggi mencapai 40, Dumin lebih cepat menurunkan panas
3. Paracetamol sesuai dosis anak
4. Termometer
5. Jangan panik !

Info detail : sumber : http://milissehat.web.id/?p=51

-weet@’s-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s